Review Buku
Diskursus Munasabah Alquran
dalam Tafsir Al-Misbah
BAB 3
Judul
Buku
: Diskursus
Munasabah Al-Quran Dalam Tafsir Al-Misbah
Penulis
: Dr. Hasani Ahmad Said, M.A.
Penerbit
: AMZAH
Tahun
Terbit
: 2015
Cetakan
: Pertama
Design
Cover
: Diah
Purnamasari
Editor :
Nur Laili Nusroh, Abdul Manaf
Jumlah Halaman
: 293 halaman
Halaman yang diresensi :
Halaman 141-163
Resensator :
Muhammad Arif Rahman
Penulis
menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 nya di UIN syarif hidayatullah Jakarta
dengan konsentrasi tafsir-hadits. Ia adalah lulusan terbaik pendidikan kader
mufassir (PKM) pusat studi al-quran tahun 2010 dan menjadi dewan pakar pusat
studi al-quran. Saat ini penulis merupakan dosen tetap di UIN syarif
hidayatullah fakultas ekonomi dan bisnis. Dan ia juga dosen terbang di program
pascasajana IAIN raden intan lampung dan pascasarjana UNISMA bekasi sejak tahun
2014. Selain itu penulis juga pernah menjadi dosen luar biasa fakultas
ushuluddin dan filsafat, fakultas syariah dan hokum, dan fakultas ilmu tarbiyah
dan keguruan UIN syarif hidayatullah Jakarta.
Buku
karangan Dr. Hasani Ahmad Said, M.A ini, dalam bab 4 menjelaskan model
munasabah alquran dalam tafsir al-misbah yang mana di dalamnya lebih
menjelaskan tentan bagaimana para pembaca lebih memahami tentang munasabah
alquran itu sendiri. Di buku ini pengarang mengambil tafsir karya quraish
shihab yaitu tafsir al-mishbah dalam pengajarannya tentang munasabah alquran.
Secara
umum, peletakan ayat-ayat dan surah-surah di dalam mushaf berbeda dengan turunnya
ayat. Ada yang turunnya lebih awal justru diletakkan di akhir mushaf,
sebaliknya ada yang turun di akhir namun diletakkan di awal mushaf. Mengenai itu,
quraish shihab berpendapat bahwa bukan dari kapan turunnya ayat atau surah
tersebut, tapi apa kandungan dari surah tersebut. Seperti surah al-baqarah yang
terdapat bahasan mengenai keharaman makanan, menuntut ilmu, anjuran bersedekah,
menegakkan hukum, kewajiban berpuasa, dan banyak lagi.
Banyak
para ulama yang mempunyai cara sendiri dalam menjelaskan bagaiamana munasabah
alquran. Quraish shihab menjelaskan bahwa ulama terdahulu pada umumnya menempuh
satu diantara tiga cara yang menjelaskan tentang hubungan antar ayat.
1. Mengelompokkan sekian banyak ayat dalam satu kelompok tema kemudian menjelaskan hubungan dengan kelompok ayat-ayat berikutnya.
2. Menemukan tema sentral dari satu surah lalu mengembalikan uraian
kelompok ayat-ayat kepada tema sentral itu.
3.
Menghubungkan ayat dengan ayat sebelumnya lalu mencari keserasiannya.
Kajian
ilmu munasabah alquran mendapatkan tempat dan penghargaan yang cukup tinggi
dalam bidang ilmu-ilmu alquran dan sekaligus memiliki peran dan fungsi yang
signifikan dalam memahami alquran. Meskipun tidak semua pakar mengakui urgensi
dan fungsi ilmu munasabah alquran, keberadaanya sebagai ilmu alquran tidak
dapat dibantah dan memang mempunyai arti besar dalam menafsirkan ayat alquran.
Ilmu
munasabah sangat penting untuk menyingkap keistimewaan alquran karena memperlihatkan
keserasian ayat-ayat yang terkesan tidak mempunyai keterkaitan. Oleh karena
itu, sebagian pakar menegaskan hal tersebut sebagai bagian yang inheran dengan
kemukjizatan alquran.
Untuk
menanggapi ayat-ayat alquran yang terkesan telah tersusun sedemikian rupa dalam
mushaf utsmani, quraish shihab memperkenalkan tafsirnya yang banyak membahas
tentang munasabah. Quraish shihab berpendapat bahwa masalah korelasi antar ayat
alquran ini layak mendapat perhatian khusus. Melalui pembahasan tentang
korelasi ayat-ayat ini akan didapatkan suatu pemahaman terhadap alquran sebagai
keutuhan yang saling terkait.
Dalam
tafsirnya yaitu tafsir al-mishbah, quraish shihab mengemukakan enam keserasian
hubungan bagian-bagian alquran. Keserasian itu yakni:
1. Keserasian kata demi kata dalam satu surah
2.
Kesersian kandungan ayat dengan fashilah (penutup ayat)\
3.
Keserasian hubungan ayat dengan ayat berikutnya
4.
Keserasian uraian awal/mukaddimah satu surah dengan penutupnya
5.
Keserasian penutup surah dengan uraian awal/mukaddimah surah sesudahnya
6. Keserasian tema surah dengan nama surah
Penerapan
aspek munasabah oleh quraish shihab tidak jauh berbeda dengan mufassir sebelumnnya,
hanya saja ia lebih banyak memetik pendapat mufassir sebelumnya yang ia jadikan
acuan untuk penafsirannya dan dikembangkan lagi olenya dan dengan perspektif
yang menarik.
Tujuan
penulis dalam menulis buku ini adalah untuk memahami kepada pembaca apa arti
makna alquran itu sendiri. Dan juga untuk yang sudah meniti keahlian dalam
alquran, diharapkan pembaca bias lebih memahami secara dalam dan mengembangkan
ilmunya tersebut. Pada bab ini penulis lebih focus menjelaskan tentang
model-model tafsir karangan quraish shihab yang mana didalamnya merujuk pada
pemahaman dalam munasabah alquran.
Dari segi penyajian, buku ini disajikan secara sistematis dan logis serta
terdapat keterkaitan antarsub-bab. Dari segi kalimat, sudah jelas bahwa penulis
menyajikannya dengan paragraf yang sangat argumentatif sehingga penjelasannya
cukup bisa meyakinkan para pembacanya. Penulis juga mencantumkan glosarium
dan daftar pustaka yang kompleks yang memudahkan pembaca. Namun apabila kita tinjau
dari segi kebahasaan, sayang sekali karena di dalam buku ini terdapat beberapa
penjelasan yang membingungkan yang mana dalam suatu bahasa pembaca mungkin
tidak mengerti dengan suatu kata dalam buku ini dan juga
membuat menimbulkan penafsiran ganda.
Buku
ini layak di baca karena didalamnya memuat ilmu agama, ilmu tafsir
alquran yang mana semua itu mengacu pada kita untuk lebih beriman dan taat
kepada allah swt. Buku ini juga cocok untuk orang yang baru mengetahui alquran
dan juga meniti keahlian dalam pendidikan tafsir kerana semua itu memberikan
penjelasan dalam memahami alquran dan isinya.